Mulai menulis (karya sendiri) hari ini

ada sebuah tulisan yang menyentuh begitu saya membuka note sahabat, tulisannya seperti ini:

aku mengetuk rumah rumi …. lalu bersimpuh di hadapannya ….
maaf ayah …. mengapa kau menulis seperti ini…. tak satupun jiwa mu dsini
……rumi tersenyum….dan berkata : apakah kau tidak puas nak??

maaf ayah, tulisan mu biasa saja, tak satupun yg menyentuh jiwaku,
apakah kau sedang bingung? atau kau selalu bingung? ….
rumi pun tersenyum ….dan berkata : aku menulis, bukan untuk memenuhi nafsumu nak.
dan sang penulis tak pernah bingung dengan apa yg ia tuliskan,
jiwa nya selalu bersembunyi di setiap tulisannya…

jika ingin memuaskan jiwamu … jika kau benar benar ingin …memuaskan jiwamu
maka menulislah ….. apapun yang ingin kau tulis ….. jika pun kau tak pernah puas
dengan tulisan itu maka tak lain tak bukan, kau belum jujur dalam tulisan mu….

(kutipan dari penulis yang namanya  muflih, ITN ’99)

sampai besok hari, sebulan, dan bertahun-tahun kemudian tulisan itu saya ingat, dan mempengaruhi dalam kegiatan menulis saya. Ada yang membuat penulis enggan sharing hasil tulisannya, walaupun bagus, dan banyak pula yang sharing terus menerus, walaupun isinya tidak penting (maaf kalau ada yang merasa). Tapi yang ingin saya fokuskan disini adalah Menulis itu Bagian dari Aktivitas Sehari-hari, dan Bagikan Hasil Tulisan Anda

Ini bukan dikte, ini hanya deklarasi

Ada bagian waktu, bagian dari aktivitas sehari-hari, yang memperkenalkan hal-hal penting, dan menjadi bagian pula dari proses belajar kita. ya, dalam tiap-tiap kejadian ada ‘ibrah (pengajaran). Lantas apa yang dilakukan kalau sudah ada hikmah itu?

mengingatnya?

mudah mengingatnya jika ‘ibrah itu membuat kita terkesan, karena menjadi pengalaman. apalagi jika sifat orang itu adalah mudah ingat.

nah, tipe manusia untuk mengingat ada yang tipe visual, auditory, dan kinestetik (metode belajarnya juga beda-beda).

Berapa lama pikiran kita mampu mengingat pengalaman?

pengalaman baik bisa teringat terus menerus, tapi pengalaman buruk bisa terlupakan (disini kembali pada fitrah manusia=lupa)

Lalu bagaimana jika pengalaman terjadi pada orang lain, apakah menjadi ‘ibrah buat kita, untuk selanjutnya menjadi pengalaman?

tergantung, apakah orang itu mau share atau tidak.

Jadi?

Saya mulai menulis, dan share pada orang lain, setidaknya untuk memenuhi fitrah jiwa manusia. Jiwa manusia selama di dunia itu adalah proses, bukan hasil. Proses itu adalah belajar dan mengambil ‘ibrah (pengajaran).

ini bukan opini, ini brainstorming.

‘Kalau ada yang tidak setuju dan memberi komentar macam-macam bagaimana?’

Kembali ke puisi di atas… 🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: